ARTI IDUL FITRI


Ada tiga pengertian tentang Idul Fitri.

1. Yang paling populer di masyarakat kita, idul fitri diartikan dengan kembali kepada kesucian. Artinya setelah selama bulan Ramadan umat Islam melatih diri menyucikan jasmani dan rohaninya, dan dengan harapan pula dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT, Maka memasuki hari Lebaran mereka telah menjadi suci lahir dan batin.

2. Ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada fitrah, atau naluri religius. Hal ini sesuai dengan Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183, bahwa tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkat kualitas religiusitasnya.

3. Idul Fitri berarti dengan kembali kepada keadaan di mana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum siang hari seperti biasa.Di kalangan ahli bahasa Arab, pengertian ketiga ini dianggap yang paling tepat. Berikut ini penjelasannya

Saat ini telah menyebar di kalangan masyarakat, bahwa makna “Iedul Fitri” (عيد الفطر) adalah kembali kepada fitroh (suci) karena dosa-dosa kita telah terhapus. Namun hal ini kurang tepat, baik secara tinjauan bahasa maupun istilah syar’i.

Idul Fitri dalam bahasa Arab terdiri dari dua kata, yaitu عيد dan الفطر

Kata عيد “Ied” menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Ini menunjukkan bahwa Hari Raya Idul Fitri ini selalu berulang dan kembali datang setiap tahun. Ada juga yang mengatakan diambil dari kata ‘adah yang berarti kebiasaan, yang bermakna bahwa umat Islam sudah biasa pada tanggal 1 Syawal selalu merayakannya (Ibnu Mandlur, Lisaanul Arab).

Lalu bagaimana dengan Fitri? Arti yang tepat untuk kata الفطر adalah berbuka (kata benda).
Bagi yang sudah pernah belajar bahasa Arab tentu mengenal kosakata seperti إفطار (buka puasa), يفطر (berbuka), فطور (sarapan), yang dibentuk dari asal kata yang sama dengan الفطر

Dari sini, tampak kesalahan dari sisi bahasa, apabila makna “Iedul Fitri” diartikan kembali fitroh, seharusnya namanya “Iedul Fithroh” (bukan ‘Iedul Fitri).

Adapun dari sisi syar’i, terdapat hadits yang menerangkan bahwa Iedul Fitri adalah hari dimana kaum muslimin kembali berbuka puasa.

Dari Abu Huroiroh berkata: “Bahwasanya Nabi shollallohu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka…’”
(HR. Tirmidzi dan Abu dawud, shohih)

Oleh karena itu, makna yang tepat dari “Iedul Fitri” adalah hari kembali berbuka (setelah sebelumnya berpuasa).

Namun kesalahan besar apabila Idul Fitri dimaknai dengan `perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum` sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam. Atau
dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan. Kemudian, karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan.

*dikutip dari berbagai sumber

Posted on September 28, 2010, in ISLAM. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: