Dakwah It’s True Way Of Life!


islam

Tetaplah di sini saudaraku…
Di jalan keimanan
Di jalan keislaman
Di jalan perjuangan..

Tetaplah di sini saudaraku…
Bersama-sama kita meniti jalan ini

Kita mungkin merasa letih
Karena perjalanan ini amat panjang dan berliku

Tetaplah di sini saudaraku…
Jangan menjauh…
Yakinlah, kenikmatan yang akan kita reguk di jalan ini, jauh lebih besar dibandingkan orang yang lalai
Keindahan yang akan kita alami, sangat indah daripada keindahan yang kerap dibanggakan oleh mereka yang jauh dari jalan ini..

Semoga kita tidak tertipu dengan fatamorgana kenikmatan, keindahan, kebahagiaan semu yang sering kita lihat dari orang-orang yang jauh dari jalan ini..
Tetaplah di sini saudaraku…

Mungkin banyak muslim yang belum tahu, bahwa dakwah bukan hanya kewajiban para kyai, ustadz atau ustadzah. Dakwah adalah kewajiban kita semua, setiap muslim. Tidak peduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya ataupun miskin, selama ia bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, maka dia adalah orang islam yang memiliki kewajiban mensyi’arkan/mendakwakan islam termasuk dalam hal ini amal amar ma’ruf nahi munkar.

Salah satu dalil kewajiban dakwah bagi tiap muslim/muslimah adalah QS. Al Imron : 110

“Kamu (ummat Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (karena kamu) menyeru (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Ayat ini jelas menyatakan bahwa ummat Islam adalah ummat terbaik diantara ummat – ummat manusia yang lain karena ummat Islam menyeru pada yang baik (ma’ruf) dan mencegah pada yang munkar serta beriman pada Allah SWT. Ini adalah salah satu ayat yang menjelaskan tentang kewajiban berdakwah bagi tiap muslim. Sesungguhnya masih banyak nash lain yang menunjukkan kewajiban berdakwah ini.

Karena itu kapanpun dan dimanapun seorang muslim wajib menjalankan kewajiban dakwah sesuai kapasitasnya. Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung. Dimanapun berada, dakwah must go on!

Namun masalahnya bagaimana bila seorang tinggal di lingkungan baru, tempat yang benar – benar berbeda dengan domisili sebelumnya. Perlu proses adaptasi yang baik supaya seruan dakwah bisa diterima.

Sudah jamak didengar bahwa seseorang harus mengenal lingkungannya. Mengenali budaya, individu, kebiasaan pada masyarakat di lingkungan barunya. Entah lingkungan itu adalah tempat domisili baru, kantor baru dsb, sangat perlu untuk mengenal lebih jauh terhadap lingkungan tersebut.

Termasuk juga ketika seseorang pindah tempat tinggal ke tempat yang baru, sangat penting untuk memahami lingkungan barunya, sehingga mudah beradaptasi. Beberapa cara, misalnya dengan berkeliling di lingkungan sekitar rumah atau berkenalan dengan orang-orang sekitar tempat tinggalnya. Cara – cara tersebut cukup untuk saling mengenal dengan tetangga sekitar. Namun bagaimanakah caranya agar masyarakat di lingkungan bisa mengenali kapabilitas dan “menempatkan” diri kita sebagai pengemban dakwah?

Positioning disini bukan dalam makna status derajat sosial jahiliyah, namun bermakna penghargaan masyarakat. Terutama penghargaan masyarakat pada para pengemban dakwah. Secara umum masyarakat Indonesia masih cenderung melihat senioritas, gelar, kepangkatan untuk menempatkan status seseorang daripada kapabilitas keilmuan seseorang. Oleh karena itu status seorang pengemban dakwah terkadang agak “diremehkan” oleh masyarakat terlebih oleh masyarakat yang terprovokasi isu teroris sehingga mudah curiga pada tetangga baru yang kelihatan “alim”. Maka dari itu perlu proses adaptasi yang tepat agar masyarakat lebih mudah menerima keberadaan seorang pengemban dakwah.

Ketika seseorang muslim sudah paham kewajiban untuk menyampaikan ilmu dan beramar ma’ruf nahi mungkar di masyarakat (baca: berdakwah) tetapi masyarakat lngkungannya ia belum dikenal sebagai penceramah/ Dai bahkan masih muda dibandingkan dengan orang-orang sekitarnya dan belum teruji kepandaiannya maka untuk mengenalkan diri tentu tidak bisa dilakukan dengan cara to the point, misalnya mempromosikan diri bahwa “saya adalah seorang penceramah” atau “saya biasa mengisi acara/menyampaikan di forum”. Hal ini tentu terlihat menyombongkan diri (walaupun tidak bermaksud untuk itu), terutama jika penekanan kata-kata atau intonasinya salah. Oleh karena itu seorang pengemban dakwah harus mengenalkan dirinya dengan cara yang elegan dan sealamiah mungkin.

Terkadang seseorang yang ingin melaksanakan kewajiban untuk berdakwah tidak bisa berbuat banyak karena merasa sulit untuk mengenalkan diri pada lingkungannya, sehingga menjadikan bingung, bagaimana dan darimana harus memulai melaksanakan kewajiban dakwah ini. Bahkan seseorang bisa jadi tidak melakukan apa-apa karena kesulitan mencari peluang dakwah di masyarakatnya. Dan jadilah seorang muslim yang (sebenarnya sudah) memahami dakwah tersebut menjadi seorang yang pendiam, futur, malas berdakwah, sehingga kondisinya sama dengan orang-orang kebanyakan di masyarakat. Mereka hanya melaksanakan rutinitas keseharian belaka, yang dikerjakan dari bangun tidur sampai tidur lagi hanya berkutat pada bekerja /mencari nafkah untuk menghidupi keluarga (bagi laki-laki), sedangkan bagi wanita bekerja sebagai wanita karir membantu menambah penghasilan keluarga. Sepulang kerja hanya berfikir untuk mengurusi urusan domestik rumah tangga, melayani urusan anak-anak dan suami/istri dan diri sendiri, serta beribadah hanya seputar ibadah ubudiyyah dan individual serta melupakan ibadah sosial (termasuk dakwah).

Alangkah sedihnya melihat orang seperti itu, semasa muda –ketika sekolah/ kuliah- menjadi aktifis dakwah Islam, namun setelah berkeluarga meninggalkan itu semua hanya karena ketidakmampuan mengenalkan diri pada lingkungannya, padahal dia sudah paham kewajiban berdakwah. Naudzubillahi min dzalik. Kita berdo’a semoga Allah menjauhkan dari hal itu. Amin.

Memang tidak ada jaminan seseorang bisa eksis sebagai pengemban dakwah selama hidupnya. Tetapi sedari awal seorang muslim harus memiliki komitmen untuk bisa berdakwah dimanapun berada. Bermodalkan ilmu dan pemahaman yang dimilikinya, insyaallah bisa melaksanakan kewajiban itu.
Teladan yang nyata, sahabat Abu Dzar Al Ghifari-pun bisa berdakwah bahkan mengislamkan seluruh individu di sukunya meski baru mendapat sedikit ilmu agama (Islam). Terpenting mampu mengenalkan diri dan beradaptasi, maka lingkungan juga akan mengenal dan membutuhkan kemampuan seorang pengemban dakwah untuk memperbaiki kehidupan sosial dan ibadah mereka.

Rasululloh Muhammad SAW adalah contoh otentik tentang mengenalkan diri pada lingkungan beliau. Kita pasti sudah tahu bahwa Beliau sedari kecil sudah dikenal sebagai orang yang terpercaya, dan dijuluki Al-Amin oleh masyarakat jahiliyah pada saat itu. Masyarakat sudah tahu dan mengenal siapa Muhammad bin Abdullah itu, sehingga ketika beliau diangkat oleh Allah SWT sebagai Rosul dan menyampaikan wahyu kepada masyarakat , orang-orang Mekkah sudah banyak tahu, siapa Muhammad itu. Walaupun ada yang pro dan kontra terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad tersebut, namun dengan kegigihan Rosululloh Muhammad SAW, Islam bisa didakwakan dan disebarkan ke seluruh jazirah arab bahkan menjadi kekuatan baru dunia.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk “mengenalkan diri” pada masyarakat antara lain:

1. Menjadi orang yang terbaik di lingkungan.
Memberi contoh perbuatan yang baik dalam setiap interaksi, senantiasa berusaha agar perkataan /perbuatan terjaga dari kesalahan, berusaha mengaktualisasikan aturan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dan jika dirasa ada kesalahan yang pada orang lain, segeralah meminta maaf. InsyaAllah ini tidak akan menurunkan image / harga diri.

2. Sedikit demi sedikit menyampaikan tentang hal-hal yang diperbolehkan atau yang dilarang menurut Islam ketika bercengkeramah dengan tetangga, sehingga lingkungan mengetahui secara tidak langsung bahwa ia memiliki ilmu islam yang cukup untuk menyampaikan dakwah di masyarakat.

3. Bantulah orang lain untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya menurut solusi islam. Jika mereka bertanya tentang sesuatu, apakah masalah ibadah mahdhoh maupun ghoiru mahdoh, itu berarti masyarakat sudah mulai menempatkan dan membutuhkan ilmu kita

4. Mengikuti forum-forum pengajian yang diadakan oleh masyarakat sekitar, sehingga mereka tahu kecenderungan kita pada hal-hal yang berbau keislaman. Dan disana kita akan mengenal dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan yang sama, bahkan kita bisa kenal akrab dengan kebiasaan masyarakat. Apalagi bila sudah dikenal memiliki kelebihan kemampuan verbal ataupun baca Al-Quran dengan baik niscaya akan memudahkan untuk memberi kontribusi yang lebih di forum tsb, semisal untuk memimpin pengajian, dll. Hal ini merupakan awal yang sangat baik untuk meniti “karier” dakwah.

5. Ciptakan “corong” melalui orang lain, bahwa diri kita adalah seorang pengemban dakwah. Jadi bersyukurlah jika ada orang yang mengatakan : “sampean kan bisa ceramah”, atau mendapat predikat secara alami dari masyarakat sebagai “Pak kyai’, “Bu Nyai’, “Pak Ustadz”, “ustadzah”, dll.

6. Jika kita punya forum ta’lim, ajaklah masyarakat sekitar ke forum tsb.

7. Ketika ada tawaran untuk menyampaikan berceramah di pengajian, sambutlah dengan baik dan laksanakan amanah tsb seoptimal mungkin karena “kesempatan tidak datang dua kali”. Walaupun undangan tsb hanya pada forum kecil, namun hal itu adalah sesuatu yang bagus sebagai cikal bakal dakwah. Semoga setelah itu berkesempatan untuk menyampaikan di forum yang lebih besar, seperti dalam pengajian akbar, pengisian radio bahkan di televisi.
8. Jangan takut dan grogi, walaupun usia masih muda dibandingkan dengan audience / anggota majelis ta’lim. Bahkan Meski belum berkeluarga sekalipun, Yakinlah bahwa masyarakat (setidaknya sebagian masyarakat) masih membutuhkan ilmu islam yang hendak kita syi’arkan.

Demikianlah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk adaptasi lingkungan dan bisa berkiprah dalam dakwah di masyarakat dalam rangka mewujudkan izzul islam wal muslimin serta mengentaskan masyarakat dari kejahiliyahan.

Jika belum mendapatkan kesempatan berdakwah di forum, tetaplah istiqomah melakukan dakwah dengan uslub lain sesuai kemampuan, semisal membagikan buletin-buletin keislaman, ngobrol ringan dengan mengarah pada penyampaikan pemahaman islam, mengingatkan orang untuk berbuat ma’ruf, dll. Semoga Allah menjadikan kita sebagai pengemban dakwah yang istiqomah dan mampu mengubah masyakat kapitalis jahiliyah ini menjadi masyarakat islam. Amien

Wallahu a’lam bi ashowab

Dikutip dari infoummat.wordpress.com dengan beberapa perubahan

p.s. Sebuah penyemangat diri untuk tetap ‘memahami dakwah. Semoga selalu terpatri dalam diri kita: DAKWAH, It’s True Way Of Life!

Posted on May 3, 2011, in ISLAM and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: