“Aku, Allah, Dia” dan “Kami” dalam Al-Qur’an


Qs 16:63 berbunyi:
“Demi ALLAH, sesungguhnya KAMI telah mengutus Rasul-Rasul KAMI….dst”

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”.
(Al-Anbiya : 107)

Kami disini kan “Allah”
Kami=bentuk jamak, berarti lebih dari satu ??
Sebenarnya ada berapa sih Allahnya???

Mengapa Allah SWT memakai kata “Aku, Allah, Dia” dan “Kami” dalam Al-Qur’an (dalam terjemahan Indonesia)?

Ini lah salah satu tanda keagungan mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab. Jikalau Al-Qur’an itu diturunkan dengan semua bahasa, tentu akan banyak perbedaan penafsiran kata di setiap wilayah dan perubahan yang susah dipantau dan dideteksi kebenarannya.

Jikalau Al-Qur’an di Indonesia dimusnahkan dan dibakar, akan datang jutaan hafidz (penghafal) Al-Qur’an dari seluruh dunia untuk menggantikannya dengan hafalan yang sama, surat yang sama, ayat yang sama, dan ruruf yang sama. Begitulah salah satu cara Allah SWT menjamin kemurnian Al-Qur’an.

Sebenarnya pertanyaan ini sudah dijawab dari jaman dulu oleh ulama ahli tafsir (bisa Anda cari di tafsir-tafsir klasik).
Dan para pendeta dan umat nasrani selalu mempertanyakan (setiap kali melihat terjemahan Al-Qur’an) pada masa-ke-masa, menyangka & bertanya apakah kata “KAMI” dalam Al-Qur’an adalah “Tuhan yang lebih dari satu”, padahal ayat lain sudah membantahnya bahwa Allah SWT adalah SATU (salah satunya surat Al Ikhlas ayat 1, QS 112:1), bukan tiga seperti disangkakan kaum nasrani.

Akan tetapi jika Anda asli orang arab dan fasih berBahasa Arab, tentu Anda bisa memahami kata “Nahnu (Kami)” ini.


Tapi mari kita bahas sedikit saja apa rahasia Al-Qur’an ini.

1. Kadang Allah SWT menggunakan kata “AKU, ALLAH, DIA” di dalam Al-Qur’an (dalam Bahasa Arab adalah “ANA” juga “INNI” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “TU”, atau juga langsung dengan lafadz “Allah” sendiri, begitu pula dengan kata “Dia” / ‘Huwa’ dalam Bahasa Arab).

Contoh Ayat,
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلا لا رَيْبَ فِيهِ فَأَبَى الظَّالِمُونَ إِلا كُفُورًا
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.”
(Al Israa’ Ayat 99, QS.17:99)

Dengan maksud suatu penciptaan yang tidak melibatkan makhluk manapun, umumnya Allah SWT mengatakan “ANA/INNI (AKU) atau juga “HUWA/DIA” dan langsung juga lafadz “ALLAH” sendiri.
“MENUNJUKKAN”
hanya ALLAH SWT sendiri yang menciptakan. Tidak ada unsur lain/makhluk lain (sekutu) yang membantu penciptaannya.

Maknanya menunjukkan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat. Tidak ada makhluk pun yang dapat menyamai Keagungan & Kekuatan Penciptaan-Nya Yang Luar Biasa.

Contoh Ayat yang lain,
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ
“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.”
(Al Jaatsiyah : Ayat 22, QS.45:22)

Maksudnya, Allah SWT sendiri yang menciptakan langit & bumi tanpa ada keterlibatan makhluk lainnya yang membantu.

Anda pernah tau gedung paling tinggi di dunia sekarang yang ada di Dubai? Saya kenalkan, namanya ‘Burj Dubai’.

Disana itu butuh arsitek yg mendesainnya, perlu tenaga sipil, tambah kontraktor, tenaga kerja yang banyak, tenaga ahli yang banyak. Bisa kita bayangkan, berapa orang yg dibutuhkan untuk sebuah penciptaan gedung ini.

Seorang Fir’aun pun tidak bisa membuat piramidnya-nya hanya seorang diri!!!

Tidak bisa kita bandingkan kita dengan Allah SWT! Kita tidak ada apa-apanya.

2. Kadang Allah SWT juga menggunakan kata “KAMI” di dalam Al-Qur’an (dalam Bahasa Arab adalah “NAHNU” juga “Inna” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “NAA”).

Jika Anda orang arab tentu Anda akan paham, atau juga Anda yang mondok di pesantren yang bahasa sehari-harinya menggunakan Bahasa Arab (seperti pondok pesantren gontor dan laen-lain) tentu mengetahui makna penggunaan kata “Nahnu (kami)”.

Contoh 1: “Nahnu (kami)” memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu “kami” (plural – jamak – banyak),
bisa juga untuk “satu orang” yaitu yg dimaksudkan “saya-sendiri” dengan makna “kemuliaan” – mulia. (Dalam Bahasa Arab)

Contoh 2: “Antum (kalian)” memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu “Kalian” (plural – jamak – banyak),
bisa juga untuk “satu orang” yaitu yg dimaksudkan “Anda” dengan makna “kemuliaan”. (Dalam Bahasa Arab)
(bukan kata “kamu”, yg tidak sopan diucapkan kepada orang tua)

kata “Antum (kalian)”, biasanya digunakan oleh para santri (murid) untuk memanggil sang guru (kyai) (yg seorang diri – bukan jamak/plural). Artinya sangat dianggap tidak sopan jika Santri mengobrol dengan kyai-nya memanggil dengan kata ‘ANTA (kamu)”, bukan “Antum”. Bukan berarti “Antum” ini bermakna “kalian” (jamak) akan tetapi bermakna satu untuk “PENGHORMATAN”.

Ya, untuk sebuah “PENGHORMATAN DAN PENGAGUNGAN”.

Belum paham? atau paham sedikit?… Mari kita belajar sedikit Bahasa Arab dan Inggris 20 detik saja.

I (am) = saya, aku.
You = kamu
We = kami
They = Mereka
He = dia (laki-laki)
She = dia (wanita)
It = dia (benda & hewan)

Mari bandingkan dengan Bahasa Arab… (Maaf, pengetikannya memakai bukan huruf arab)

Huwa = dia (laki-laki)
Huma = dia berdua (laki-laki)
Hum = mereka (laki-laki)
Hiya = dia (perempuan)
Huma = dia berdua (perempuan)
Hunna = mereka (perempuan)
Anta = kamu (laki-laki)
Antuma = kamu berdua (laki-laki)
Antum = kalian (laki-laki)
Anti = kamu (perempuan)
Antuma = kamu berdua (perempuan)
Antunna = kalian (perempuan)
Ana = Saya, Aku
Nahnu = Kami

Belum lagi jika digabungkan dengan ‘kata kerja’, maka akan berubah. contoh kata ‘fa’ala’ (melakukan / ‘do’ dalam english) ditempatkan dengan kata-kata diatas maka akan menjadi: “yaf’alu (dia (seorang lak-laki) melakukan…), yaf’alaani (dia dua orang lak-laki melakukan…), yaf’aluuna (mereka (laki-laki) melakukan…), dan seterusnya…

(ini bukan untuk jawaban sih, tapi ini cuman untuk memperlihatkan kepada Anda bahwa ilmu Bahasa Arab itu luas.
Dan saya tekannya, yaitu tentu grammar-nya berbeda dengan Bahasa Inggris, ataupun Bahasa Indonesia, apalagi bahasa lainnya).

—–> Artinya, kita harus mengembalikan maknanya ke bahasa aslinya, yaitu Bahasa Arab.

Ok, kembali… Lalu mengapa Allah SWT menggunakan kata “NAHNU (KAMI)” ???

contoh Ayat,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
(Al Mu’minuun : Ayat 12, QS.23:12)

Kadang Allah SWT memaksudkan (dalam Al-Qur’an) Suatu penciptaan yang melibatkan oknum lain dalam penciptaan tersebut sebagai proses, umumnya Allah SWT mengatakan “NAHNU (KAMI), dan juga kadang Allah SWT menggunakan kata “Ana (Aku)” di ayat lainnya.

Ada yang berbeda kan,… dengan yang Nomer 1 diatas…?!!

Maknanya, ketika Allah menciptakan manusia, ada unsur lain yang menjadi proses penciptaannya. Yaitu adanya pertemuan ayah & ibu, bertemunya sperma & sel telur. Ada proses inilah yang kemudian rahasia Al-Qur’an mengapa Allah SWT menggunakan lafadz “Nahnu (Kami)”.

Ini adalah contoh ayat yang sepadan, Allah SWT mengatakan “Kholaqnaa” yaitu “Kami (menciptakan)”
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”
(Al Hujuraat : Ayat 13, QS.49:13)

Lalu Bagaimana dengan ayat…
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”.
(Al-Anbiya : 107)

Kata Arsalna ( أَرْسَلْنَا ‘Kami mengutus’) berasal dari kata dasar “Arsala” أَرْسَلْ (yg mempunyai arti; mengutus, memberikan risalah, mengantarkan risalah).

Sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, Kata “Kami” yg Allah SWT maksudkan karena adanya oknum/unsur lain dalam proses pengutusan. Yaitu “MALAIKAT JIBRIL” Sebagai pengantar wahyu Allah SWT. Makanya Allah SWT menggunakan kata “Nahnu (kami).

“Menjadi Rahmat” tidak berarti hanya “diri Nabi Muhammad saw” saja, akan tetapi dengan “mukjizat Al-Qur’an (wahyu – dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril) dan juga SUNNAH NABI SAW (perilaku & akhlaq beliau selama hidup).

3. KADANG Allah SWT menunjukkan kata “INNI (AKU)” DAN “NAHNU (KAMI)” di dalam Al-Qur’an adalah “LITTA’DZHIIM (Menunjukkan Keagungan & Kebesaran).
مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ
“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.”
(Al Ahqaaf : Ayat 3, QS.46:3)

Menjelaskan sesuatu Yang BESAR, AGUNG, MULIA, DAHSYAT.
Contoh, dijelasin bahwa bumi itu mengitari matahari, itu saja. Padahal tidak hanya sampai disitu saja. Bahkan matahari pun berputar mengitari galaksi sebagaimana bumi mengitarinya. Dan masing-masing mempunyai jalur lintasannya sendiri. Memiliki jarak dan waktu tersendiri. Semua bergerak. Menakjubkan!

Ayat lainnya, (Menunjukkan keagungan dan kebesaran penciptaan-Nya)
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”
(Adz Dzaariyaat : Ayat 49, QS.51:49)

Ada langit ada bumi, ada siang ada malam. dll.

Tapi kadang di Ayat lain Allah juga menggunakan kata “Aku”,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(Adz Dzaariyaat : Ayat 56, QS.51:56)

4. Kata “KAMI” (Memahaminya dalam Bahasa Arab) dalam Al-Qur’an bukan bermakna “TUHAN ITU LEBIH DARI SATU”. Akan tetapi sebagai TA’DZHIIM (PENGAGUNGAN). Karena ayat yang lain mengatakan Allah, tiada Tuhan selain Dia.
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”
(Al Baqoroh : Ayat 255, QS.2:255)
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Maha Satu).”
(Al Ikhlas : Ayat 1, QS.112:1)

Allah, adalah Tuhan, Yang Maha Esa

Mudah-mudahan bisa dipahami, walau sedikit.

Jika ingin lebih banyak referensi, silahkan membaca tafsiran dari tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al Jalalein, atau yg dari Indonesia saja seperti tafsir Al Mishbah, dari Prof.DR. Quraisy Shihab.

WAllahu Ta’ala A’lam.

Sumber: http://www.friendster.com/group-discussion/index.php?t=msg&th=2869282&start=0&

Posted on May 5, 2011, in Aqidah, ISLAM and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: