Menghitung Rizki Secara Matematis (Hati-hati!! Salah Kaprah Rizki Bag.2)


Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya Hati-hati!! Salah Kaprah Rizki!

4.Menghitung rizki secara matematis

Rizki tidak bisa dihitung secara matematis, rizki tidak bisa dihitung dengan pembagian, perkalian, pertambahan atau pengurangan. Rizki adalah rahasia Allah, yang telah ditetapkan bagi tiap-tiap makhluk, dalam kitabNya, Lauhul mahfudz.

Bila rizki dihitung secara matematis, dapat mengakibatkan sikap/perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah, diantaranya:

-Takut menikah, karena khawatir tidak bisa menghidupi anak dan istri.

Ada yang takut menikah karena menghitung rizki dengan logika matematika. Istri dan anak-anak dianggap sebagai bilangan pembagi. Sehingga ada laki-laki yang berpikir kalau gajinya sekarang saja sudah pas-pasan, apalagi kalau dibagi dengan istri dan anak-anak. Padahal dalam pernikahan banyak mengandung nilai barakah yang bisa membuka pintu rizki, dan Allah telah berjanji akan memberi rizki kepada setiap makhluknya. Istri dan anak-anak bukanlah makhluk epifit yang akan menghisap makanan dari pohon inangnya. Takdir rizki itu ada, bahkan jauh sebelum istri dan anak-anak terlahir di dunia ini.

“ Allahlah yang menciptakan kamu, kemudian memberikan rizki” (QS. Ar-Ruum 40)

“Dan tidak ada satupun hewan melata di muka bumi ini, kecuali rizkinya telah ditetapkan oleh Allah“ (QS.Hud 6)

Lagipula Allah telah berjanji akan ‘memampukan’ orang yang menikah:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS. An Nuur : 32)

-Takut punya anak, menggugurkan kandungan, membunuh/membuang bayi baru lahir/anak

Hal ini sering kita temui di masyarakat, akibat keyakinan yang kurang kuat tentang jaminan rizki dari Allah. Masyarakat menganggap anak sebagai beban dan bilangan pembagi rizki. Padahal Allah telah berfirman:

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh TuhanMu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang Nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (Al-An’am 151)

-Sulit menafkahkan hartanya, karena takut hartanya berkurang.

Secara matematis, ketika menafkahkan harta, memang uang kita berkurang. Namun rizki tidak bisa dihitung secara matematis. Allah justru berjanji menambah rizkinya bila kita menafkahkan harta di jalan Allah.

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman,
“Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu.” (HR Muslim)

Ibnu Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak.”

-Tidak bersyukur atas jumlah rizki yang diterima, Iri dengan orang lain yang dianggap rizkinya lebih baik atau lebih banyak.

Sungguh, Allah adalah Maha Pengatur rizki. Tidak layak kita iri kepada orang lain yang kita anggap rizkinya lebih banyak, karena rizki kita telah ditetapkan masing-masing. Yakinlah apa yang diberikan pada kita, itulah yang terbaik untuk kita, Allah yang Maha Mengetahui kebutuhan kita. Yang menjadi kewajiban kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin mencapai rizki yang halal dan mensyukuri segala pemberianNya.

“Dan tidak ada satupun hewan melata di muka bumi ini, kecuali rizkinya telah ditetapkan oleh Allah“ (QS.Hud 6)

“Allah yang meluaskan rizki kepada siapa yang dikehendakiNya.” (QS.Ar-Ra’ad 26)

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (An-Najm 39-41)

“..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim 7)

-Merasa diri lebih baik/sombong karena merasa dirinya lebih kaya/rizkinya lebih banyak dari orang lain atau merasa rizkinya lebih baik dari orang lain

Hitung Rajeki
Ketika kita diberi rizki yang kita anggap lebih banyak atau lebih baik daripada orang lain, bukan berarti kita lebih baik dari orang lain yang secara matematis kita anggap rizkinya lebih sedikit. Karena sesungguhnya rizki yang kita anggap lebih baik atau lebih banyak itu merupakan ujian apakah kita mampu bersyukur ataukah tidak.

“Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang kaya itu) berkata: Orang semacam inikah diantara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka? (Allah berfirman): Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?” (Al-An’aam 53)

Demikianlah beberapa efek buruk yang ditimbulkan bila menghitung rizki secara matematis. Semoga kita menghindarkan diri dari sikap seperti itu..

Bersambung..

Posted on June 15, 2011, in Aqidah, ISLAM and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: