Ibadah Setengah hati, Akankah Bernilai ibadah?


Titi  sangat rindu tempat peraduannya, maklum dia sudah seharian bekerja.
Sampai di kamar, langsung saja direbahkan tubuhnya di tempat peraduannya.
Nyaris  Titi tertidur, tapi dia teringat, belum sholat!
Dengan tertatih dia kembali bangun, wudhu, dan sholat kilat sambil terkantuk-kantuk!
Pikirnya, yang penting sholat, menggugurkan kewajiban..

Cerita di atas hanya salah satu contoh saja, tentang ibadah yang dilakukan ‘setengah hati’. Bukan hanya dalam hal sholat, mungkin pernah (bahkan mungkin seringkali) kita menjalankan kewajiban dengan setengah hati bahkan mungkin tidak sampai seperempat hati! Mungkin kita menjalankan kewajiban hanya sekedar menggugurkan kewajiban.

Bagaimanakah kedudukan amal kita yang seperti ini? Dapatkah amal yang dilakukan agak asal-asalan, alias setengah hati alias ‘hanya’ menggugurkan kewajiban menjadi bernilai ibadah di mata Allah??

Untuk menjawab hal ini, perlu kita ketahui dulu definisi ibadah dan apa saja syarat suatu amal bisa bernilai ibadah di mata Allah.

Definisi Ibadah

Ibadah secara bahasa berarti merendahkan diri serta tunduk. Adapun definisi ibadah secara syar’i  meliputi :

1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasul-Nya.

2. Ibadah adalah merendahkan diri pada Allah azza wa jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa cinta yang paling tinggi.

3. Ibadah adalah segala perbuatan atau lisan secara lahir ataupun batin yang dilaksanakan dalam rangka menggapai ridla Allah dan cintaNya.

Ketiga definisi ini didasarkan pada firman Allah SWT, yang artinya :

”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beriabadh kepada-KU” (QS. Adz Dzariyat:56)

Dengan membaca definisi ibadah diatas kita dapat memaami bahwa ibadah tidak hanya terbatas dengan amal sholat, dzikir, baca qur’an ataupun amalan hablum min Allah saja. Namun ibadah adalah mencakup semua perbuatan taupun perkataan yang lahir maupun batin yang dilakukan dengan niat mendapat ridlo Allah SWT. Artinya, makna ibadah sangatlah luas. Berdakwah, bekerja, belajar, bahkan ngobrol, atau apapun yang kita lakukan insyaAllah dapat bernilai ibadah bila memenuhi syarat berikut..

Apa syarat suatu amal bisa bernilai ibadah? (=Syarat Amal bisa Diridhoi Allah)

” Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu siapa diantara kamu yang LEBIH BAIK AMALNYA. Dan Dia maha perkasa lagi maha pengampun.” (QS. Al-MUlk-2)

Fudhail Bin Iyadl (Salah satu guru Imam Syafi’i) menafsirkan ayat ini bahwa Allah menghendaki Amalan Baik (Ahsanu Amala), yakni perbuatan yang memenuhi 2 syarat yang bersifat kumulatif (harus ada keduanya), yakni :

1. Ikhlas

Makna Ikhlas adalah perbuatan tsb diniatkan semata karena Allah, terbebas dari syirik besar maupun kecil. Adapun agar perbuatan tsb dilakukan dengan ikhlas ada tiga syarat, yakni :

a. Al Khudu’ (Tunduk / taat)

Merupakan rasa takut kepada Allah dan pengawasan-Nya. Ini merupakan representasi dari ruhiyyah yaitu sebuah kesadaran manusia akan hubungan dengan Tuhannya (Allah SWT). Barangsiapa merasa senantiasa terhubung dengan Tuhannya & merasa senantiasa diawasi oleh Allah  niscaya segala perbuatan dan perkataannya akan senantiasa terikat pada aturan – aturan Allah. Melaksnakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

b. Ridha

Bermakna menerima dengan lapang dada terhadap segala ketentuan Allah, betapapun ketetapan Allah tsb tidak sesuai dengan harapannya bahkan sesekali mendatangkan kesedihan.

Ridha merupakan tanda keimanan seseorang. Ridha adalah sikap mulia karena di dalamnya terhimpun sikap tawakkal dan sabar yang disertai dengan usaha yang sungguh – sungguh.

Allah SWT berfirman :”Bahkan barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (TQS. Al Baqarah : 112)

c. Taslim

adalah sikap pasrah, sikap taat kepada Allah dengan tidak mempertanyakan sedikitpun ketentuan – ketentuan Allah. Contoh termudah berkaitan sikap ini adalah perbuatan Nabi Musa yang tidak mempertanyakan perintah Allah ketika beliau dan pengikutnya diperntahkan lari ke laut saat dikejar fir’aun dan pasukannya. Beliau tidak menanyakan kenapa ke laut ? Apakah sudah dipersiapkan kapal ? dsb. Beliau dengan pasrah melaksanakan perintah Allah yang ternyata telah bersiap membelah lautan sebagai jalan bagi Nabi Musa dan ummatnya untuk lari dari kejaran fir’aun.

Begitupun sikap pasrah Nabi Nuh yang tidak mempertanyakan perintah Allah untuk membuat perahu besar, padahal ketika itu sama sekali tidak ada tanda – tanda ada banjir bandang. Namun Nabi Nuh dengan keimanan dan kepasrahannyan dengan taat melaksanakan perintah Allah yang terbukti mampu menyelamatkan dirinya dan kaumnya yang beriman.

2. Showab

Ini adalah syarat kedua dari sebuah perbuatan yang ihsan (baik). Aspek kebenaran / showab ini memiliki dua syarat, yakni :

a. Aspek Hukum

Setiap perbuatan muslim hendaknya senantiasa terikat pada hukum syara’. Islam telah menetapkan bahwa setiap perbuatan manusia memiliki status hukum : Wajib, Sunah, Mubah, Makruh dan Haram. Inilah yang harus menjadi acuan dalam menjalankan setiap perbuatan dan bukan mengandalkan hawa nafsu belaka. Dengan kata lain setiap perbuatan harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

b. Aspek Nilai

Artinya berusaha dengan sungguh – sungguh dan penuh kesabaran hingga usaha tersebut bernilai. Sebuah contoh riil, misalnya seorang yang sedang menuntut ilmu hendaknya berusaha dengan sungguh – sungguh agar dapat memahami ilmu yang dipelajarinya. Dengan niat ikhlas beribadah, menyiapakan segala penunjang, seperti mendengarkan deengan seksama, mencatat bahkan bertanya pada hal-hal yang kurang jelas hingga ia benar – benar memahami ilmu yang dipelajarinya itu.

Penutup

Berdasarkan ulasan diatas kita dapat memahami bahwa setiap amal akan bernilai ibadah bila perbuatan itu memenuhi 2 syarat:

1. Ikhlas (yang memenuhi syarat khudu’, ridho, taslim)

2. Showab: benar sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dan dilakukan dengan sungguh-sungguh!

Semoga setiap amalan kita bisa bernilai ibadah di hadapanNya…

Wallahu a’lam bi ashowab.

Dikutip dari infoummat.wordpress.com dengan beberapa perubahan kata, tanpa merubah makna.

ps. semoga bisa jadi pengingat diri untuk lebih sungguh-sungguh beribadah..

Posted on June 17, 2011, in ISLAM and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: