Obat Futur


Seorang penuntut ilmu tidak boleh futur dalam usahanya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. Futur yaitu rasa malas, enggan, lamban dan tidak semangat, padahal sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh dan penuh semangat.

Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i dan penuntut ilmu. Sehingga menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan, misalnya futur dalam menuntut ilmu syar’i, futur dalam aktivitas dakwah, futur dalam beribadah kepada Allah dan lainnya.
DEFINISI FUTUR
Menurut lughat (bahasa)
futur adalah putus setelah bersambung atau tenang setelah bergerak, malas, lambat, pelan, setelah rajin dan bersungguh-sungguh.

Adapun menurut istilah
futur adalah satu penyakit . Tingkatan yang terendah adalah berupa kemalasan, menunda-nunda atau berlambat-lambat dan puncaknya adalah terputus atau berhenti sama sekali.

Firman Allah SWT :
“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai alasan apa untuk beribadah kepada-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka sentiasa bertasbih malam dan siang tiada henti-henti” (Al-Anbiya’ : 19-20)

Rasulullah s.a.w bersabda dalam sebuah hadits :
“Sesungguhnya bagi setiap amalan adalah masa-masa rajin dan tiap-tiap masa rajin ada futur. Namun barangsiapa yang futurnya menjurus kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk. Barangsiapa pula yang futurnya menjurus kepada selain sunnahku, maka ia telah tersesat.” (Riwayat Al-Bazzar)

Apabila melakukan maksiat dan dosa berulang kali.
Terlalu sering melakukan kesalahan menjadikan seseorang itu merasakan kesalahan sebagai suatu kebiasaan, sehingga pada suatu ketika individu itu semakin sukar meninggalkan kesalahan tersebut.

Hasil daripada kebiasaan tersebut pula akhirnya menyebabkan hilangnya rasa bersalah ketika melakukan kesalahan atau dosa.

Akibatnya, seseorang menjadi semakin berani melakukan dosa dan kesalahan yang berikutnya.

Anas RA pernah berkata:
“Demi Allah, niscaya kamu melakukan suatu dosa yang kamu anggap dosa itu lebih tipis dari rambut. Sedangkan kami dahulu menganggap perbuatan tersebut termasuk dalam `maubiqat’ (dosa besar).”

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang yang (berani) melakukan dosa secara terang-terangan. ” (HK. Bukhari)

Orang yang terkena penyakit futur ini ada 3 golongan:

  1. Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur, dan golongan ini banyak sekali.
  2. Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktivitasnya, dan golongan ini lebih banyak lagi.
  3. Golongan yang kembali pada keadaan semula, dan golongan ini sangat sedikit.

Futur memiliki banyak dan bermacam-macam sebab. Apabila seorang muslim  selamat dari sebagiannya, maka sedikit sekali kemungkinan selamat dari yang lainnya. Sebab-sebab ini sebagiannya ada  yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.

Diantara sebab-sebab futur:

  1. Hilangnya keikhlasan
  2. Lemah dalam menuntut ilmu syar’i
  3. Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat
  4. Fitnah(cobaan) berupa istri, anak dan harta
  5. Hidup di tengah masyarakat yang rusak.
  6. Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi
  7. Melakukan dosa dan maksiat serta memakan barang-barang yang haram
  8. Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah)
  9. Lemahnya iman
  10. Menyendiri (tidak mau bergaul dengan komunitas yang baik)
  11. Lemahnya pendidikan

Futur adalah penyakit yang sangat ganas, namun tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia pun menurunkan obatnya. Akan mengetahui orang-orang yang mau mengetahuinya, dan tidak akan mengetahui orang-orang yang enggan mengetahuinya.

Diantara obat penyakit futur adalah:

  1. Memperbaharui keimanan. Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjamaah di masjid, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat tahajjud dan witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, berbakti kepada kedua orang tua, dan lain-lain dari amal-amal ketaatan.
  2. Merasa selalu diawasi Allah ta’ala dan banyak berdzikir kepada-Nya
  3. Ikhlas dan bertakwa
  4. Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bid’ah dan kemaksiatan)
  5. Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah dan dauroh-dauoroh syar’iyyah.
  6. Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri
  7. Mencari teman yang baik (shalih)
  8. Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap su’ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek)
  9. Sabar dan belajar untuk sabar
  10. Berdoa dan memohon pertolongan Allah

Sumber:
Menuntut Ilmu, Jalan Menuju Sorga Yazid bin Abdul Qadir Jawas

”Penyakit ummat islam-kaedah & cara pengubatan”, Sayid Muhammad Nur

Posted on June 24, 2011, in ISLAM. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: